Search
15 Mei 2026
Menko Zulhas Tegaskan Sawit dan Pangan Harus Berpihak pada RakyatKUPANG, KOMPAS.com - Menteri Koordinator (Menko) Pangan, Zulkifli Hasan dalam pemaparannya menekankan pentingnya menempatkan rakyat sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional. “Termasuk sawit yang kebun besar dibuat inti plasma. Rakyat 80 persen. Pengusaha besar tidak boleh semua. Usaha rakyat, ownership itu rakyat, bukan konglomerasi,” kata Zulkifli dalam kunjungannya ke STIKOM Uyelindo di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (15/5/2026). Menurut Zulkifli, pada era reformasi, sistem ekonomi berubah menjadi pasar bebas sehingga pihak yang memiliki modal besar lebih mudah menguasai berbagai sektor ekonomi. Kondisi itu membuat masyarakat kecil kerap menjadi korban. “Inilah yang dikembalikan, diluruskan oleh Pak Prabowo,” katanya.
Menko yang karib disapa Zulhas ini mengatakan, penguatan kembali ekonomi rakyat dilakukan agar petani dan peternak memeroleh kesejahteraan lebih baik melalui swasembada pangan dan pemberdayaan masyarakat.
Zulhas juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian. Menurut dia, penggunaan teknologi mampu memangkas biaya produksi dan meningkatkan efisiensi kerja petani. “Kalau panen padi itu memerlukan tenaga manusia 24 orang satu hari, kalau teknologi satu hari 24 hektare,” ujarnya. Pemanfaatan teknologi, lanjut dia, tidak hanya untuk panen, tetapi juga mencakup pemupukan dan penyiraman menggunakan drone serta teknologi modern lainnya. “Saya mendukung kampus ini mengembangkan kampus IT,” katanya.
Zulhas juga menyinggung kebijakan pemerintah terkait kredit usaha rakyat yang diarahkan memiliki bunga lebih rendah agar masyarakat kecil lebih mudah mengakses pembiayaan usaha. “Hampir di setiap perkampungan ada kredit Mekar dengan bunga 24 persen. Saat ini, arahan Presiden, pengajuan kredit oleh rakyat maksimal 8 persen bunga," katanya. Sementara itu, Ketua STIKOM Uyelindo Kupang, Reimerta Natonis, menyampaikan terima kasih kepada Menko Pangan Zulkifli Hasan atas kehadirannya dalam kuliah umum di kampus tersebut.
Kehadiran Zulhas dinilai membawa harapan dan inspirasi bagi generasi muda NTT, khususnya mahasiswa STIKOM Uyelindo. Dalam sambutannya, Reimerta mengatakan, STIKOM Uyelindo merupakan perguruan tinggi IT pertama di NTT yang terus berkomitmen mencetak sumber daya manusia unggul, inovatif, dan berdaya saing global. “Kami ingin lulusan STIKOM mampu membantu memecahkan tantangan teknologi informasi, khususnya di sektor pangan di Indonesia,” katanya.
Reimerta mengungkapkan, minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di STIKOM Uyelindo cukup tinggi. Namun, keterbatasan biaya masih menjadi kendala bagi banyak calon mahasiswa. Menurut dia, sekitar 24 persen pelajar di NTT ingin melanjutkan studi di STIKOM Uyelindo, tetapi terkendala faktor ekonomi. Karena itu, pihak kampus meminta dukungan pemerintah untuk membantu akses pendidikan bagi pelajar SMA yang ingin melanjutkan studi di bidang teknologi informasi. Selain itu, Reimerta menyampaikan bahwa STIKOM Uyelindo saat ini tengah berproses melakukan perubahan status menjadi universitas.
“Kami memohon pendampingan dari bapak Menko Pangan agar proses perubahan STIKOM dapat terlaksana,” ujarnya.
Reimerta berharap kuliah umum tersebut membawa perubahan positif bagi pengembangan teknologi informasi untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan di NTT. Kuliah umum itu mengusung tema “Teknologi Digital untuk Ketahanan Pangan NTT: Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Swasembada Nasional”.
Sumber Foto : Kompas
Sumber Berita : Kompas